Pages

Ads 468x60px

Labels

Social Icons

Rabu, 14 Agustus 2013

MAKALAH KEWIRAUSAHAAN ETIKA BISNIS


PENDAHULUAN

Ketika minat berwirausaha tumbuh subur di Indonesia, timbul anggapan bahwa kewirausahaan adalah alat yang paling tangguh untuk mengejar kekayaan. Kewirausahaan diartikan sebagai usaha mencari uang dan cara cepat menjadi kaya.
Sebagai orang memilih bekerja keras dan membangun usaha dengan keringat dan air mata. Namun sebagian orang mengambil jalan pintas. Mereka yang mengambil jalan pintas ini menerima order dan mengambil uang, tapi tidak menyerahkan hasil pekerjaan yang berkualitas. Mereka membuka usaha money games, pinjaman berantai, investasi palsu atau segala sesuatu yang menggiurkan, tetapi merugikan banyak orang. Mereka membuat armada penerbangan yang dengan tariff murah, tapi mengorbankan keselamatan penumpang. Mereka menjual saham dengan harga tinggi, tapi laporan keuangannya tidak jujur.
Banyak mahasiswa tampil menggebu-gebu dengan semangat yang berlebihan dan rasa percaya diri yang tinggi bahwa mereka bias menguba isi dunia dengan tempoh sekejap. Mereka berjanji dan mereka berbuat. Mereka membuat pengumuman lewat internet, SMS, atau facebook agar teman-temannya mengirim uang ke nomor rekening tertentu, lalu janji keuntungan ditebarkan uang pun masuk. Untuk besar diraih, tetapi bisnisnya tidak jelas dan cenderung spekulatif.
Apa pun yang dilakukan, kewirausahaan tidak dapat dibangun dalam tempo sekejap. Jika Anda mereasa telah berhasild alam waktu singkat, periksa kembali apakah fondasi usaha Anda sudah cukup kuat? Periksa kembali apakah sukses yang Anda peroleh itu diraih dengan jujur dan halal, apakah bisnis Anda riil atau fiktif-spekulatif atau ada pihak yang dirugikan? Apakah Anda sudah memenuhi syarat dan kewajiban Anda?
Segala tindakan yang melawan hokum alam biasanya sarat dengan pelanggaran etika. Ketika proses dipotong, cara instan ditempuh, persoalan-persoalan etika layak dipertanyakan. Sudah etiskah usaha saya?
Tentu saja setiap orang berhak untuk menjadi kaya. Yang patut dipertanyakan adalah : (1) apakah benar ada cara instan yang halal untuk menjadi kaya? (2) Apa yang dilakukan orang agar dia menjadi kaya? (3) Apakah dengan kaya otomatis Anda menjadi wirausaha? (4) apakah Anda sudah pantas (sudah saatnya) hidup bergelimang harta?
Pertanyaan – pertanyaan itu patut direnungkan karena seseorang berwirausaha bukan hanya untuk sehari atau dua hari, setahun atau dua tahun. Kewirausahaan adalah sebuah pilihan hidup yang melekat di sepanjang hidup seseorang. Jika anda terlalu emosi, serkah, ingin serba instan, bias jadi bukan keberhasilan atau kesejahteraan yang diraih, melainkan kebencian, cacian, peristiwa hokum dan penjara yang menanti Anda.
Selain berpotensi member kebahagiaan dan kemandirian, kewirausahaan yang tidak dilandasi dengna etika yang kuat juga berpotensi negative, beresiko, dan bisa menjadi masa depan Anda tamat dalam sekejap. Oleh karena itu berusahalah dengna memegang teguh nilai-nilai etika dari Anda muda dan jangan berkompromi sekecil apa pun. Bangunlah karakter dan mil,ikilah reputasi.

Reputasi adalah apa yang diucapkan para pelayat saat jasad seseorang disemayamkan di tempat peristirahatan terakhir
Karakter adalah akar dari reputasi. Ini adalah apa yang diucapkan melekat kepada Tuhan tentang kita.

Lebih baik tumbuh bertahap, tapi langgeng, daripada terang dalam sekajap, lalu mati dan meninggalkan aroma busuk. Mungkin Anda harus bersabar lima tahun sebelum bisnis Anda benar-benar bersinar, tetapi ia terus tumbuh. Ada cobaan yang Anda hadapi, tetapi itu bukan membuat Anda mati, melainkan bangun dan membuat Anda lebih tangguh menghadapi hari esok yang lebih berat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar berbisnis dapat dilakukan dengan etis adalah : 
1.      Berperilaku jujur dalam menjalankan aktivitas bisnis. Ini meliputi seluruh aspek dalam menjalanakan usaha. Misalnya daam aspek produksi, berperilaku jujur berarti kita menghasilkan produk sesuai dengan standar kualitas, aman dikonsumsi orang lain, dan memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan oleh hokum maupun pembeli. Jujur juga berarti terbuka, menyebutkan segala kekurangan dan bahaya yang timbul dari produk Anda. Jujur dalam berproduksi, memasarkan dan membayar pajak.
2.      Menaati tata nilai. Dalam melakukan aktivitas bisnis, ada tata nilai yang tidak tertulis yang berlaku universal dan harus kita jalankan. Misalnya, nilai sama-sama untung (win-win), saling menghormati, member tahu, mencegah kerugian pihak lain, keterbukaan, adil, santun, melayani dan seterusnya.
3.      “Walk the Talk” bermakna konsisten antara apa yang dilakukan dengan apa yang diucapkan. Hal ini berarti sebagai seorang wirausaha, Anda perlu berkerja keras untuk menjadi contoh dan menjalankan hal-hal positif yang Anda ucapkan.

Pemahaman Mengenai Etika Dalam Berbisnis
Dalam berwirausaha, apa pun juga bisnis yang Anda tekuni, ingatlah bahwa usaha yang langgeng adalah usaha yang dijunjung oleh nilai-nilai etika. Berbagai studi menemukan, perusahaan-perusahaanyang tumbuh menjadi besar bukanalah perusahan yang diawali oleh manajer-manajer hebat yang digaji mahal atau dibangun oleh pendiri yang luar biasa. Juga bukan spirit kewirausahaan gila-gilaan dengan keberanian luar biasa. Demikian juga bukan modal kuat atau kecerdasan para pendirinya.
Perusahan yang tumbuh menjadi besar justru dimulai dari orang-orang biasa yang sedari awal memegang teguh nilai-nilai moral dan etika. Mereka menjaga kepercayaan dan tidak sembarangan dalam kata-kata, apalagi dalam bertindak. Mereka bekerja dengan tata nilai dan merekut orang dengan melihat nilai-nilai yang dianutnya. Mereka menanamkan nilai-nilai yang sehat sedari awal.
Apakah yang dimaksud dengan etika? Beberapa sumber menyebut etika sebagai suatu pedoman untuk mendapatkan hidup yang berniai atau bermartabat. Untuk itulah, etika memberikan petunjuk tindakan-tindakan apa yang benar dan apa yang salah. Menurut the World Book Ecyclopedia (2008), etika mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang benar dan salah dengan menggunakan metode “reasoning”, bukan benar-salah menurut kepercayaan atau tradisi.
Oleh karena itu, selalu ada “reason” (alasan) mengapa kita harus memegang teguh etika. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini dan lihat apa yang akan Anda dpatkan kalau Anda konsisten menjalankan apa yang Anda katakana (Maxwell, 1982).
Apa yang saya katakan
Apa yang saya lakukan
Apa yang mereka kerjakan
-       Saya berkata kepada karyawan  :
“Datanglah ke kantor tepat waktu
-       Saya tiba tepat waktu
-       Mereka datang tepat waktu
-       Saya berkata kepada karyawan
“Bersikaplah positif”
-       Saya menunjukkan siap positif
-       Mereka berperilaku positif
-       Saya berkata kepada karyawan
“Utamakan pelanggan”
-       Saya mendahulukan konsumen
-       Mereka mengutamakan konsumen

Sekarang, apa jadinya kalau hal yang saya lkuakna berbeda dengan yang saya ucapkan seperti berikut ini :
Apa yang saya katakan
Apa yang saya lakukan
Apa yang mereka kerjakan
-       Saya berkata kepada karyawan  :
“Datanglah ke kantor tepat waktu
-       Saya selalu terlambat  
-       Beberapa karyawan akan tepat waktu dan yang lainnya tidak
-       Saya berkata kepada karyawan
“Bersikaplah positif”
-       Saya menjalankan perilaku negative
-       Hanya beberapa orang yang positif, selebihnya berperilaku negative
-       Saya berkata kepada karyawan
“Utamakan pelanggan”
-       Saya mengutamakan diri saya lebih dahulu
-       Hanya beberapa orang yang mendahulukan pelanggan, yang lainnya tidak.

Ketika manajemen Adam Air mengurangi anggaran maintenance, pasti mereka mempunyai alasan. Bagi sebagian besar Low Cost Carrier (LCC) seperti Adam Air, “cost is the enemy”. Mereka tidak ingim memelihara cost, apalagi fixed cost (biaya tetap). Karena mengjear penumpang dalam jumlah besar (volume), maka harga tiket pesawat harus murah. Supaya harga tiketnya murah, maka struktur biayanya (cost) harus dibuat rendah. Hanya saja, apakah biaya yang ditekan itu masih bias menjamin keselamatan penumpang?
Itu baru dari sisi perusahaan. Bagaimana dari sis pengawasan keselamatan penerbangan? Apakah dengan mengetahui hal-hal di atas aparatur pemerintah layak mendiamkannya? Apa alasan mereka mendiamkannya? Selalu ada alasan mengapa seseorang mengambil tindakan A dan bukan B. peter Koestenbaum (2002) mebmeri formula untuk memahmi etika sebagai “melayani sesama”.
Karena keberadaan kita ditentukan oleh adanya orang alin, maka janganlah melaukan sesuatu pada (untuk) orang lain atas apa yang kita sendiri tidak senang menerimanya. Misalnya, Anda tak senang tertipu, maka janglah melakukan penipuan pada orang lain.
Melayani sesame juga berarti anda mau melihat dari kacamata orang lian. Masuklah dalam alam berpikir orang lain (another person’s point of view) dan liahtlah apakah perbuatan anda menyenangkan atau tidak.
Sering kali, orang tidak menyadari bahwa perbuatnya akan mencelakan orang lain sebelum waktunya tiba. Awalnya, anda akan merasa tidak ada masalah. Anda menekan biaya, konsumen anda senang, anda pun meraih keuntungan. Namun, lihatlah apa akibatnya daalm rentang waktu yang lebih panjang. Apakah tidakan Anda akan mencelakan keselamatan pelanggan-pelanggan Anda?
Dalam konteks yang lebih luas “melayani sesame” juga berarti Anda menjadi seorang yang lebih dari orang yang mengembangkan orang lain (karyawan). Anda berarti menjadi mentor atau guru yang membantu karyawan-karyawan anda menemukan hidupnya, melepaskan belenggu-belenggu mereka dan membuat hidup mereka lebih bermakna, lebih bernilai.
Sekali lagi, bekerjalah dengan tata nilai. Bangulah nilai-nilai dan terapkan dalam hidup anda, dalam usaha yang anda bangun. Janganlah melakukan sesuatu pada orang lain hal yang anda sendiri tidak ingin mengalaminya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Labels

Main Menu

Blogger templates

Blogger templates

Pages - Menu

 

Sample text

Sample Text